Wednesday, 31 July 2019

July 31, 2019 0

Stay Fame di Fame Hotel Gading Serpong

Liburan? Sudah lama sekali saya tidak merasakan kenikmatan liburan yang hakiki layaknya liburan sejak kembali berkerja dibalik perangkat kecil maupun perangkat besar. Mendengar perpaduan alfabetik dan konsonan “libur” saja saya sudah teramat bahagia. Kenapa? Karena itu artinya saya sudah bisa melepaskan beberapa pekerjaan untuk sementara waktu untuk tidur dari pagi hingga pagi lagi atau sekadar berkumpul dengan keluarga dan/atau justru menghadiri pertemuan penting. Ya, sekitar beberapa bulan lalu saya memaksakan diri untuk pergi liburan dengan cara staycation di salah satu hotel bintang 3 (tiga) yang berada jauh dari pusat kota Jakarta dan tentunya jauh juga dari Planet Namec.

Pernah mendengar Fame Hotel Gading Serpong? Kalau sudah berarti kamu beruntung, kalau belum mari simak ulasan mengenai staycation saya bersama Koh Sinyo, Kak Titi, Kak Leo, Kak Gio, dan Ghana berikut ini.



Fame Hotel Gading Serpong


Dari sub-judulnya sudah jelas sekali berlokasi di Serpong-Tangerang. Dengan lokasi yang cukup strategis Fame Hotel ini dapat ditempuh melalui jalan tol Jakarta Merak dan keluar tol Serpong jika kamu menggunakan kendaraan roda 4 (empat). Namun jika kamu menggunakan moda transportasi kereta listrik seperti saya maka pilihan stasiun pemberhentian kamu adalah stasiun Cisauk yang setelah itu dilanjutkan ojek daring/pangkalan dengan jarak tempuh kurang lebih setengah jam. Psst, katanya stasiun modern Cisauk ini kelak akan terintegrasi dengan terminal baru juga, lho.

Pegawai yang Ramah
Saya punya sedikit cerita ketika menginap di sini, kala itu saya terpaksa datang cukup larut malam karena ada pekerjaan di Jakarta yang harus diselesaikan saat itu juga. Selain itu, perjalanan menuju lokasi yang mana menggunakan kereta listrik juga sedang padat-padatnya sehingga mengharuskan saya terlambat tiba juga. Tapi, semua hilang begitu saja ketika disambut oleh ramahnya para pegawai. Mulai dari petugas keamanan hingga resepsionis semuanya ramah. Dengan senang hati mereka juga memberikan fasilitas untuk membawa beberapa barang saya menuju kamar ketika saya masih ingin di lobi bersama dengan Kak Gio, Ghana, dan Kak Leo. Aduh, meleleh karena keramahan mereka. Belum lagi, dari pihak restoran juga menyiapkan makan malam, padahal sudah larut malam. Makan malam saya hari itu tentunya ditemani oleh Kak Gio, Ghana, Kak Leo, Kak Titi, dan Koh Sinyo sembari bercerita basa basi busuk. Hehehe.

Kamar



Keluar dari lift untuk masuk ke kamar, sepanjang Lorong saya mendengarkan alunan jazz yang enak sekali untuk didengar. Di koridor juga terpampang artis-artis Hollywood papan atas. Dan begitu masuk kamar, saya disambut oleh nuansa hangat dari perpaduan warna yang cantic yakni ungu dan putih. Kebetulan saya mendapatkan kamar dengan jendela dan jendelanya lebar sekali jadi terlihat pemandangan kota dari lantai 3 (tiga) Kamar mandi yang luas bikin nyaman untuk saya yang suka mandi lama-lama.

Fasilitas di Kamar



Saya mendapatkan kamar tipe superior room yang kurang lebih fasilitas kamar hotelnya sama seperti hotel pada umumnya. Fame Hotel Gading menyediakan fasilitas kamar dengan TV LED 26 inch, Wi-Fi yang super kencang, mini desk dengan lampu baca cocok buat yang enggak bisa tidur dan memilih untuk buka laptop seperti saya. Lalu IDD Telephone yang bisa digunakan untuk menelepon kamar Kak Gio untuk fotoin saya. Komplimen 2 botol air minum juga ada as always, kalau masih kurang pihak hotel menyediakan air gallon dekat lift. Cermin sepanjang tubuh manusia juga tersedia di depan pintu kamar mandi. Oh iya, ada quote di dinding langit-langit kamar, lho.

Untuk kamar mandi seperti yang saya bilang pada paragraph sebelumnya, kelengkapannya berupa toiletries yang terdiri dari sabun, sampo all in, sikat gigi dan pasta gigi dengan travel size. Showernya juga menyediakan air panas dan air dingin. Westafelnya lebar pas untuk menaruh segala perlengkapan dan/atau peralatan lengkap juga dengan cermin.

Fasilitas Hotel




Hotel ini menyediakan 6 ruangan meeting, di lantai 1 juga terdapat mini market dengan harga produk yang terjangkau. Kemudian restoran yang diberi nama Popcorn Bites, ruang tunggu dekat resepsionis, dan spot foto yang instagramable.

Restoran










Popcorn Bites nama dari restoran di Fame Hotel mempunyai kapasitas yang lumayan besar sehingga bisa menampung puluhan orang. Ini terbukti ketika saya dan teman-teman berbuka puasa. Restorannya penuh namun enggak sumpek. Dindingnya menarik untuk foto instagramable ditambah hiasan artis-artis ternama serta quote menarik lainnya. Dekorasi dari langitnya penuh dengan nuansa bintang-bintang.

What I like from Fame Hotel Gading Serpong?
  • Lobi, seperti sedang disambut oleh wartawan internasional.
  • Quote di dalam kamar, sebelum tidur baca dan bangun tidur baca juga jadi bikin semangat untuk menjalani hidup. Apakah aku harus memasang quote juga di langit-langit kamarku?
  • Pegawai yang ramah, ramahnya pegawai merupakan salah satu identitas penting untuk sebuah hotel.
  • Lokasi, buat kalian yang suka kuliner jangan lupa berkunjung ke Pasar Modern Paramount karena banyak sekali warung tenda yang menjual berbagai makanan khas mulai dari Pontianak hingga daerah lainnya. Cukup 5 menit berkendara dari Fame Hotel. 
How to go there?
Please follow this maps.



Akhir paragraph saya mengucapkan terima kasih pada Fame Hotel Gading Serpong telah bersedia kami repotkan, tulisan teman-teman mengenai Fame Hotel akan saya sertakan di bawah ini, ya. Dan terima kasih juga pada pembaca Benalicious yang sudah meluangkan waktu untuk membaca ulasan ini. Sampai ketemu ditulisan lainnya. Sehat selalu ya kalian!

Ulasan Kak Leo: Menginap ala Superstar di Fame Hotel Gading Serpong
Ulasan Kak Gio: Disgiovery at Fame Hotel Gading Serpong
Ulasan Kak Titi: Staycation Rasa Famous People
Ulasan Ghana: Pengalaman Menginap di Fame Hotel Gading Serpong
Ulasan Koh Sinyo: Fame Hotel Gading Serpong

14 Juli 2019,
Di pesawat menuju Yogyakarta
Kesayangan Kamu.

Friday, 5 April 2019

April 05, 2019 18

Kuliner di Sabang Jakarta Pusat

Beberapa teman datang ke Jakarta untuk menikmati keindahan Monas baik itu pada malam hari ataupun siang hari. Beberapa diantara mereka datang untuk mencari buah tangan yang hendak dibawa ke asalnya. Mereka sibuk mencari sesuatu yang unik selain Monas ketika datang ke Jakarta dan kamu kesulitan untuk membawanya ke mana selain melihat benda yang menjulang tinggi dan selalu dibanggakan oleh seluruh penjuru Indonesia, bukan? Kita sama, bukan dengan senang hati saya harus berada di posisi sama seperti kalian tapi ini benar adanya.

jakarta

Kita tidak pernah hidup sendirian, bukan? Seorang pejalan pasti akan menemui banyak orang ketika melakukan perjalanannya. Mungkin beberapa diantaranya sekelebat mengucap janji, seperti;

“Datang ke Jakarta, nanti saya ajak keliling.”
“Kalau ke Jakarta, jangan lupa untuk hubungi saya.”
“Wah, saya rindu sekali makanan seperti ini. Kalau ke Jakarta, saya ajak makan di tempat favorit saya.”

Adakah yang melakukan itu dan tidak menepati janji tersebut? Benar, seorang teman datang untuk menagih janji. Ia jauh-jauh dari ujung barat Indonesia untuk menikmati kemegahan Monas, menikmati junk food yang hanya bisa ia lihat di layar televisi, melihat arogansi penduduk Jakarta yang seolah hanya mereka yang paling terburu-buru karena di kejar oleh waktu.

Untuk pembaca benbernavita.com yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya, pernah mendengar daerah Sabang? Bukan di Aceh, melainkan di Jakarta Pusat. Kalian paham sekali bahwa di sana adalah surganya kuliner bukan? Mau apa saja semua ada, benar begitu? Penjaja makanan sudah menyiapkan semuanya sejak pukul 18.00 wib, pengunjung mulai berdatangan tepat 18.15 wib. Matahari memang selalu tenggelam setiap hari, pengunjung datang tanpa rasa peluh mengharapkan makanan yang nikmat dan senantiasa menghapus keletihan di hari itu.

jakarta

jakarta

jakarta

jakarta

Ya, inilah kuliner yang berada di jalan Sabang Jakarta Pusat, bisa kita menyebutnya dengan night market. Mulai dari makanan ringan hingga makanan berat semua berada di sana, ketika siang hari mereka menjadi tempat lalu lintas yang mana orang-orang akan sibuk membuat foto atau sekedar bercengkerama dengan klien, kemudian pada malam hari semua berubah menjadi warung-warung tenda. Sekelompok pekerja, menghabiskan malam di sana, tidak peduli dengan apa yang sudah dilaluinya hari itu karena semua sudah berlalu. Dan mungkin inilah beragam kuliner di Sabang, Jakarta Pusat yang dapat dinikmati salah satunya…

1. Soto Ceker


Sebagai penikmati kaki ayam, saya selalu mencoba berbagai sensasi dalam menikmati kaki ayam dan salah satunya soto kaki ayam atau soto ceker. Soto ceker Pak Gendut, salah satu soto ceker paling legendaris di Sabang. Pertama kali menikmatinya di Jalan Jaksa, kemudian menikmatinya lagi di Jalan Sabang, di trotoar Sarinah, hingga masuk ke dalam gang yang berada di Jalan Sabang. Soal rasa? Tentunya berubah-ubah, kadang enak kadang standar kadang biasa saja. Tidak apa, menikmati makanan bukan melulu menyoal pada rasa kan? Bukan penikmat kaki ayam? Kikil, sayap, dan soto ayam juga tersedia tentunya dengan harga yang variatif.

2. Sate Ayam

jakarta

Sate ayam, salah satu makanan favorit pasangan saya. Pertama kali saya mengajaknya makan soto ceker ia memilih sate ayam. Ada banyak sate ayam di Sabang, yang terkenal tentunya ada, yang membuatnya berbeda apa? Tentu soal potongan daging yang disusun, apakah daging semua, apakah lemak, apakah kulit, apakah brutu. Semua tergantung selera pengunjung, ada harga ada rasa. Jika boleh saya jujur, harga sate ayam di Sabang terlalu mahal, lebih banyak lemak ketimbang daging. Berkali-kali kecewa dan enggan kembali.

3. Pempek

Rindu kuliner Palembang yang terkenal sejagat raya Indonesia, ini? Di Sabang juga ada, rasanya mungkin akan sangat berbeda baik itu dari adonan tepung dan ikan dari pempek atau cukonya. Salah satu kerabat bilang kalau cuko itu adalah senjatanya. Harga pempek di sini dibandrol sekitar Rp 15ribu hingga Rp 25 ribu.

4. Nasi Goreng

jakarta

Makanan paling mudah dan tidak perlu bertele-tele. Harga tergantung isi dari keinginan pengunjung, semakin wah semakin mahal.

--

Adakah diantara kalian yang merasa ganjal dengan foto-foto di atas? Ya, foto pada postingan ini saya ambil menggunakan kamera handphone, karena saya kira saya tidak akan menulis blog lagi, makanya kamera saya museumkan. Pertama kali menjepret memang membuat takjub, kenapa seperti itu, tapi bukan saya jika tidak memberitahu kalian apa rahasianya.

Kamera dari handphone OPPO R17 Pro ini harus saya akui memang cukup apik, terdapat kamera utama pada bagian dan memiliki beragam fungsi, seperti; Kamera belakang 20 megapixel dengan optical Image Stabilization (OIS), kamera 12 megapixel, lensa 3D Stereo Camera untuk memberikan efek AR. Belum lagi kamera depan 25 megapixel.

jakarta

Infrared camera, untuk memberikan efek post editing pada wajah supaya lebih presisi dan digunakan sebagai AR Rules dan camera of f/1.5 dan f/2.4 Aperture, supaya menghasilkan gambar dengan komposisi terbaik menurut AI. Should I clap for this phone?

Saya memiliki 3 handphone dan menurut saya handphone OPPO R17 Pro ini amat mumpuni ketika menggunakan mode malam (Ultra Night Mode), hasil fotonya benar-benar detail dan membuat saya terkesima. Amat cocok melakukan fotografi malam hari dengan lampu-lampu ibukota Jakarta yang cantik.

Pernah mendengar SuperVOOC? Salah satu teknologi pengisian daya yang paling cepat dan terdapat di OPPO R17 Pro. Benar saja, ketika handphone tersebut lemah daya (nol persen), hanya perlu menunggu 35 menit untuk kembali penuh hingga seratus persen.


Sudah tertarik untuk punya kamera handphone (OPPO R17 Pro) seperti saya? Yuk, kita sama-sama punya supaya bisa hunting night market lainnya di Jakarta. Pssst, ingatlah bahwa kamera terbaik adalah kamera yang saat ini kamu punya. Penasaran sama productnya? Silahkan cek di link ini ya untuk info lebih lengkap nya 

Saturday, 30 March 2019

March 30, 2019 1

Minta Maaf pada Blog Pribadi

Lama sudah tidak menulis, apa kabar duniaku? Perlukah saya melakukan pengakuan atas hilangnya saya dari sisimu? Blog ini selalu saya cintai sepenuh hati, tidak akan pernah terlupa bagaimana kami tumbuh bersama, setiap detail dari mu selalu membuat bahagia, melihat kamu tetap berdiri kokoh seperti ini sudah membuat saya jauh lebih baik.

Yaa, mudah untuk datang dan pergi tanpa perlu peduli dengan perasaan orang lain, benar begitu bukan? Kamu tahu? Dunia nyata ternyata sekejam itu, saya sampai kewalahan menghadapinya. Bermurung dibalik bantal, menyeka air disekitar mata, menghela napas untuk melepas luka batin. Benar seperti yang orang tua katakan, “di luar sana hidup akan terasa lebih berat.” Namun, seberat apapun memang harus dihadapi dan tetap menunjukkan persona senyum, bukan?

Meminta maaf pada blog pribadi? Sepertinya ada yang salah dengan penulis. Ada pepatah yang mengatakan, anjing menggonggong kafilah berlalu. Ya, biarlah. Kamu sudah bertahan sejauh ini, memberikan pelbagai pesona. Bagaimanapun, karya mu tetap akan abadi di sini. Perlukah kita memulai lagi? 

Friday, 11 January 2019

January 11, 2019 2

Sunrise di Torosiaje

gorontalo

Beberapa bulan lalu saya pergi ke Pohuwato. Saya menyisir jalanan nan lika liku menuju Kecamatan Popayato kemudian naik sampan untuk menyeberangi pemukiman Desa Torosiaje. Desa yang berisi dengan suku Bajo. Masih terasa seperti kemarin perjalanan ini dilakukan.

Dimana ada pesisir di mana ada laut di sana ada orang Bajo. Dikaitkan dengan legenda. Asalnya dari tanah Johor. Meskipun belum ada yang memastikan suku Bajo dari mana. Sejauh ini suku Bajo mengatakan bahwa sukunya termasuk dalam sejarah yang hilang. Penyebaran suku Bajo yang terdapat di Indonesia khususnya Indonesia timur karena hilangnya seorang Putri dari Raja Johor. Sekelompok orang-orang kerajaan mandi di sebuah pulau, namun Putri Johor tidak diberikan izin oleh Raja.

Nama Torosiaje berasal dari 2 suku kata toro dalam Bahasa Bugis koro: Tanjung. Siaje hanya penyebutan dari si haji. Suku Bajo identik dengan suku Bugis. Adat, kearifan lokal, Bahasa, dan kata. 

Torosiaje menjadi kunjungan pada hari kedua dalam rangkaian perjalanan ini. Setelah sebelumnya harus naik turun kereta listrik yang harus penuh waspada karena kamera dan laptop berserakan di dalamnya, berganti kendaraan online, berpindah tempat, naik turun pesawat, naik turun mobil menempuh perjalanan berjam-jam hingga akhirnya tiba di Torosiaje. Saya jadi teringat kata Kak Ajo, teman perjalanan saya sekaligus mentor menulis saya. Ka Ajo pernah berkata

“Bena, selama kamu melakukan perjalanan dan berhari-hari bahkan berminggu-minggu lamanya terkadang jadi terbiasa bahkan terlalu biasa. Pindah dari kereta satu ke kereta lainnya, bus ke bus, pesawat ke pesawat, mobil ke mobil, kapal ke kapal. Apa yang kamu rasakan, apa yang kamu lakukan, secara fakta semuanya berubah menjadi rutinitas. Semula yang awalnya menyenangkan, kini menjadi hal biasa bahkan kamu sendiri jenuh."

Memang benar, tapi perjalanan ke Torosiaje menghilangkan rasa bosan itu. Rumah panggung yang tertata, tawa anak kecil yang menyeruak di tengah tenangnya air laut, hamparan laut yang terpampang nyata di sekitar penginapan. Itu semua membuat saya menantikan hal terindah perdetiknya.

gorontalo

Tak puas dengan sunset yang di dapat, saya mengesalinya, keesokkan harinya saya bangun lebih pagi dari biasanya. Entah mengapa pupil seperti disentuh untuk segera bangun. Matahari menyinari semua rumah panggung di sekitar. Cahaya kuning keemasan cukup membuat mata sejuk. Dinginnya air laut pagi itu saya tantang untuk terus mengabadikan setiap gerak-gerik awan. Seperti sangat disayangkan untuk dilewatkan. Penginapan menjadi ramai dengan kawan-kawan lain yang ingin mengabadikan hal sama. Matahari semakin menunjukkan sisi sempurnanya, sunyi itu menjadi riuh dan membuat kami harus segera berkemas untuk berkeliling ke pulau selanjutnya.

Sabang 16,
18 Juli 2017
Kesayangan Kamu. 

**
Postingan ini dalam rangka memajukan Pohuwato menuju digital bersama dengan Pemerintah Daerah Pohuwato, Gorontalo dalam hashtag #PohuwatoGoesDigital

Friday, 28 December 2018

December 28, 2018 0

Sharp Cooking Battle at Cook and Bake City

Pekan lalu saya mengikuti Sharp Cooking Class & Battle yang diselenggarakan di Cook & Bake City, Bintaro - Tangerang. Buat yang sudah tahu kediaman saya, jangan heran kalau saya mainnya kejauhan. Saya amat sangat menyukai sekali acara masak-memasak, baik yang di televisi maupun di youtube. Jadi, sudah pasti kuota habis hanya untuk melihat beragam kuliner dan masak-memasak, acara masak-memasak favorit kamu apa?

Untuk mencapai ke Cook & Bake City ini, saya perlu effort karenakan lokasinya berbeda dengan yang ada di maps. Kalau kalian juga mau ikut cooking class, pastikan lokasinya diarahkan pada Electronics Solution dan Cook & Bake City berada di dalamnya. Cook & Bake City ini memang dijadikan tempat kursus yang bisa digunakan untuk kursus memasak atau membuat kue dan menariknya adalah siapa saja dapat mendaftar serta berkreasi di dapur Cook & Bake City. Setiap bulan jadwalnya berbeda-beda, untuk detail jadwalnya segera follow instagram cookandbakecity atau mampir ke websitenya yang tertera.

bernavita

Banyak peserta-peserta lainnya yang hadir, jangan khawatir ketika kamu ditemani oleh suami/pacar/orangtua, karena disediakan ruang tunggu beserta camilannya. Untuk periode ini saya ikutan cooking class dari Sharp dengan tema Sharp Cooking Class & Battle. Semua peralatan dan bahan-bahannya sudah tersedia dengan lengkap, jadi enggak usah bingung mau bawa apa saja untuk ke lokasi.

sharp

Sebelum memulai Battle dengan para peserta, Chef Deni mempraktekan cara membuat strawberry jam, ayam kari, dan mango sorbet. Semua alat yang digunakan oleh Chef Deni menggunakan produk-produk dari Sharp. Seperti Healsio dan Slow Juicer.

Slow Juicer ini digunakan oleh Chef Deni untuk membuat mango sorbet. Pembuatannya cukup mudah, hanya dengan buah mangga yang dibekukan dalam lemari pendingin, kemudian masukan ke dalam Slow Juicer, maka akan seperti ice cream. Ini menarik bagi saya, apalagi saya pencinta ice cream. Ini juga membuat saya langsung searching berapa harga dari Slow Juicer ini. Hehe, saya jadi bisa membuat banyak fruit sorbet kesukaan. Setelah saya telusuri ternyata canggih juga teknologinya, mungkin kalian juga ingin tahu, maka saya bersedia menulis untuk kalian. Berikut;

Teknologi pisau dan penggiling hingga kering
Juicer biasanya enggak menggiling dengan sesuai harapan kita, ya. Sisa-sisa dari yang sudah dipisahkan biasanya masih basah sekali. Nah, untuk Slow Juicer ini beda ternyata.

Mudah dan cepat dibersihkan
Mau bikinnya, bersihinnya susah. Ini yang paling malas, sih. Karena model juicer ini mudah dan cepat dibersihkan.

Sedangkan Healsio ini digunakan oleh Chef Deni untuk membuat strawberry jam dan ayam kari. Secara pribadi jujur saya merasa terheran-heran dengan produk Healsio ini. Kita dapat memasak menggunakan timer, dan enggak perlu di bolak balik masakannya, karena dapat matang secara merata. seperti presto, ya. Ternyata, setelah saya telusuri banyak hal yang menarik dari Healsio ini, diantaranya: 

Memasak secara otomatis
Biasanya, kalau sedang memasak pasti akan berlama-lama di dapur. Dengan Healsio masak jadi mudah dan enggak perlu buru-buru, karena ada pengatur adukan dengan 330 pola berbeda yang disertai dengan sensor pengaturan suhu sehingga dapat menyesuaikan suhu bahkan sebelum mulai masak dengan tujuan makanan bebas dari bakteri.

Teknologi sirkulasi steam
Dengan sirkulasi uap ini, enggak diperlukan lagi air. Jadi, hanya menggunakan kelembaban alami. Kalau presto masih menggunakan air, kalau Healsio enggak perlu air. Menarik.

Teknologi kontrol panas dengan double sensor
Terdapat pula pengatur otomatis, jadi uap-nya enggak tumpah kalau kita membuka tutupnya.

Preset time cooking
Kemarin pas coba masak menggunakan Healsio memang ada preset time cookingnya. Jadi ada poin 1 sampai 7 mulai dari merebus, menggoreng, dessert dan lain sebagainya. 

Selesai demo masak dari chef Deni, saya dan para peserta lainnya dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 3 orang, tapi saya hanya berdua. Kami diminta untuk membuat strawberry jam, mango sorbet, dan menghias cookies. Saya dan para peserta lainnya diperbolehkan menggunakan 2 (dua) produk dari Sharp, yaitu Slow Juicer dan Healsio. Secara pribadi saya kagum dengan kehebatan dari Produk Healsio dan Slow Juicer ini. Hahaha.

sharp

sharp

Yang pertama, saya dan ibu cantik membuat strawberry jam. Si Ibu memotong buahnya, saya yang bersiap-siap memasukkan ke dalam Healsio dan menambahkan gula. Iya, kami tidak menggunakan tambahan air, karena memang Healsio dirancang sedemikian rupa. Enggak lupa memasukkan gula sebanyak 8 (delapan) sendok untuk (sepertinya) setengah kilo strawberry selama 45 menit. Dilanjutkan menghias cookies, kami mendapat 5 (lima) cookies. Saya dan Si Ibu bekerja sama untuk menyelesaikan cookies, kemudian di rasa sudah selesai, Si ibu menghias waffle juga. Saya yang sudah selesai menghias cookies, segera mengambil buah mangga yang sudah dibekukan di dalam kulkas untuk membuat mango sorbet. Supaya mango sorbetnya memiliki rasa yang berbeda, saya menambahkan strawberry jam di atasnya, saya juga ENGGAK menambahkan gula, ya. Selain itu, saya juga menambahkan daun mint untuk presentasinya. Sedangkan waffle yang dihias ibu, dipresentasikan menggunakan buah strawberry, kiwi, dan jeruk. Sungguh sehat.

cooking

Yang paling deg-deg-an tiba. Penilaian juri di mulai, dan alhamdulillah tim kami (saya dan si Ibu) menang dalam Sharp Cooking Battle. Masing-masing dari kami berhak mendapatkan Sharp Multiple Sandwich Toaster. Akhir acara, kami (saya dan para peserta) diperbolehkan membawa makanan yang kami buat dan berfoto bersama.

Bogor,
23 Desember 2018,
Kesayangan Kamu.

Friday, 21 December 2018

December 21, 2018 3

Destinasi wisata budaya di Serang

Umumnya saya, kita, atau bahkan kamu yang bertempat tinggal di Ibukota akan memilih destinasi liburan ke Bogor atau Bandung. Benar kan? Tidak banyak yang berpikiran untuk melakukan wisata di Kota Serang, padahal ada banyak hal yang menarik di kota Serang, mulai dari kuliner hingga wisata Budaya. Apalagi bagi sebagian orang, kota Serang terkenal dengan kota santri, jelas Serang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam terutama di Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Karena letak geografis kota Serang yang strategis ini membuatnya menjadi kota dan pelabuhan sekaligus menjadi pintu masuknya ajaran agama islam. Benalicious, juga udah pada tahu, kan? In a fact, dulunya di Serang berdiri kerajaan islam yang lebih dikenal dengan Kesultanan Banten, dan sekarang sisa-sisa kerjaan itulah yang menjadi destinasi wisata. Apa saja destinasi wisata tersebut?

Museum Negeri Provinsi

banten

Dahulu bangunan ini merupakan kantor dari residen Banten kemudian berubah menjadi Pendopo Gubernur Banten (setelah Banten menjadi provinsi.) Museum yang diresmikan pada tanggal 29 Oktober 2015 ini menjadi salah satu cagar budaya di Banten yang saying untuk dilewatkan ketika berwisata ke Banten.

Di museum ini kurang lebih sama seperti Museum Purwakarta yang memanfaatkan teknologi digital, seperti hologram, Virtual Reality, dan informasi lainnya yang disampaikan menggunakan audio. Agar tetap tercipta peninggalan sejarahnya, museum ini juga dilengkapi dengan beragam koleksi, seperti; keramik, keris pusaka, fosil badak bercula satu, arca, dan lainnya.

Museum Batik

banten

banten

Di museum ini, tersedia pelatihan membuat batik sekaligus tempat pembuatan batiknya. Para pengunjung dapat melihat langsung beragam pembuatannya sekaligus membuat batik karya-nya sendiri. Tidak hanya Yogya dan Solo, ternyata di Banten juga cukup terkenal dengan batik-nya, yang biasa disebut dengan Batik Banten. Motif dari Batik Banten ini diambil dari benda-benda purbakala serta sejarah, sedangkan warnanya cenderung abu-abu soft (karena kondisi kadar air di Banten, mengandung zat besi yang tinggi.) Jika pengunjung tertarik dengan batik Banten, dapat membelinya di lokasi.

Berkunjung ke Gol A Gong

banten

Didirikan dengan semangat untuk menyebarkan literasi sekaligus menjadi tempat pendidikan seni dan kreatifitas sejak 3 Maret 2002. Bangunan ini merupakan perpustakaan, gedung kesenian, pendopo, dan teater terbuka. Tidak hanya itu, di sini juga terdapat learning center guna meningkatkan kualitas sumber daya anak-anak dan remaja sebagai penerus di Banten, khususnya.

Menurut informasi yang saya dapatkan, rumah dunia ini adalah kawah candradimuka bagi para penulis yang kemampuannya nol bahkan minus, yang mempunyai peluang kecil untuk diterima di tempat pelatihan atau penerbit lain.

Masjid Agung Banten

banten

Salah satu Masjid tertua di Indonesia, tersohor karena Menara masjidnya. Menara masjid ini adalah lambing dari provinsi Banten. Dibangun sekitar tahun 1556 oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama dari Kesultanan Banten ia dalah putra pertama dari Sunan Gunung Jati.

Kubah dari masjid ini berarsitektur Tionghoa yang memang sekilas mirip pagoda. Karya seni ini merupakan hasil dari Tjek Ban Tjut. Lalu 2 (dua) buah serambi yang dibangun menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama.

Menara berada di sebelah timur masjid dengan ketinggian lebih dari 24 meter. Sekilas menyerupai Menara mercusuar, dari atas sini dapat melihat pemandangan kota Banten Lama, serta laut Jawa di Utara.

Keraton Surosowan


banten

Keraton Surosowan ini adalah tempat tinggal dari Sultan Banten yang dibangun sekitar tahun 1552 kemudian tempat ini dihancurkan Belanda di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa di tahun 1680. Sudah diperbaiki lalu dihancurkan kembali pada tahun 1813 karena sultan terakhir yakni, Sultan Rafiudin tidak mau tunduk pada Belanda.

Tidak jauh dari Masjid Agung Banten terdapat Keraton Surosowan, di dalamnya memang hanya tersisa dasar dari bangunan serta puing-puing peninggalan keraton, namun Benteng Surosowan ini masih berdiri tegak hingga hari ini. Dikenal dengan nama lain yakni Gedung Kedaton Pakuwan dan masih dibangun oleh Maulana Hasanuddin. Di sini hanya tersisa reruntuhan, tumpukan batu bata merah, dan batu karang yang masih tampak membentuk sebuah bangunan keraton.

Istana Keraton Kaibon

banten

Secara lokasi, Istana Keraton Kaibon ini dibangun menghadap Barat dengan kanal pada bagian depannya. Kanal tersebut berfungsi sebagai jalur transportasi untuk menuju Keraton Surosowan yang letaknya di bagian Utara. Sedangkan pada bagian depan Keraton dibatasi dengan gerbang yang memiliki 5 pintu. Arti lima ini mengikuti jumlah shalat dalam satu hari yang dilakukan oleh umat muslim.

Istana Keraton Kaibon ini bisa dikatakan sebagai peninggalan dari kerajaan Banten yang masih tersisa bentuknya. Kaibon sendiri berasal dari ka-ibu-an atau keibuan, yaitu tempat tinggal yang dikhususkan untuk Ratu Aisyah yang mana merupakan Ibunda dari Sultan Syafiuddin. Karena masih belia saat menerima tahta sebagi sultan maka Sultan Syafiuddin dibantu oleh Ibunda untuk menjalankan roda pemerintahan di Kesultanan Banten.

Benteng Speelwijk

banten

banten

banten

Hendrick Loocaszoon Cardeel membangun sebuah benteng megah di tahun 1681-1684 yakni pada masa Sultan Abu Nas Abdul Qohar, kemudian Benteng ini diberikan nama Speelwijk sebagai bentuk penghormatan terhadap seorang jendral Belanda, yaitu Cornelis Janszoon Speelman.

Dahulu, Benteng ini digunakan untuk memantau langsung ke Selat Sunda, sekaligus menjadi kediaman komunnitas Belanda di Banten.

Meskipun hanya tersisa reruntuhan, Benteng Speelwijk masih menyisakan ruang bawah tanah atau bungker yang menghubungkan dengan lorong di bagian barat. Bungker ini berfungsi sebagai tempat tahanan para tawanan perang, maupun tempat penyimpanan Meriam dan alat pertahanan.

Vihara Avalokitesvara

banten

Vihara ini menjadi bukti adanya keberagaman dan harmonisasi antar umat beragama yang ada di Banten Lama. Lokasinya tidak begitu jauh dari Benteng Speelwijk. Konon, vihara ini sudah dibangun sejak abad ke-16 dan dikatakan sebagai vihara tertua di Banten.

Sejarah pembangunan dari vihara ini berkaitan dengan Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Seorang tokoh penyebar Islam di tanah Jawa, yang memiliki seorang istri keturunan Kaisar Tiongkok bernama Putri Ong Tien.

Melihat banyak pengikut putri yang masih memegang teguh keyakinannya, Sunan Gunung Jati akhirnya membangun vihara ini pada tahun 1542 di wilayah Banten, tepatnya di DDesa Dermayon dekat dengan Masjid Agung Banten. Sayangnya, pada tahun 1774 vihara ini dipindahkan ke kawasan Pamarican hingga kini.

Museum Banten Lama

banten

banten

banten

Terletak di kawasan Banten Lama, tepatnya di Desa Banten, Kecamatan Kasemen. Museum situs kepurbakalaan ini berjarak 12 km arah utara dari pusat kota serang. Saat masuk ke museum akan di sambut dengan meriam Ki Amuk yang memiliki ukuran 2,5 m dan terbuat dari tembaga. Konon, meriam ini merupakan hasil rampasan dari tentara portugis saat ingin menguasai kota Banten.

Selain itu, terdapat pula gerabah yang sudah terlihat retak namun masih terlihat kuat dan memperlihatkan sisa-sisa kejayaan pada zaman Kerajaan Banten. Tersedia pula gambar-gambar menarik yang menceritakan dua utusan Banten dikirim ke Inggris tahun 1682. Di bagian belakang museum juga terdapat peninggalan perabotan rumah tangga kuno. Isinya berupa keramik, gelas, dan mangkuk semuanya di dominasi dengan warna putih.

Semua destinasi wisata di atas dapat di tempuh dengan waktu 3 jam melalui tol Jakarta Merak dan keluar di Serang Barat. Kekayaan sejarah Indonesia pada masa lampau masih tersimpan rapih dan rapuh di sana. Pada masa kejayaan, Kerajaan Banten pernah memonopoli lada dan menjadi tempat perdagangan yang ramai dengan penduduk yang multietnis.

Selain Karena daerahnya yang multietnis, struktur kotanya juga sudah maju. Bagaimana kerajaan Banten membuat sebuah kolam bernama Tasik Ardi yang berfungsi sebagai penampung air, tempat peristirahatan dan pemandian bagi keluarga di kerajaan Banten.

Peninggalan sejarah kerajaan Banten perlu dilestarikan, setidaknya tidak merusak dan melakukan vandalism maupun mencurinya. Ajak kesayangan kamu untuk menikmati destinasi wisata budaya yang ada di Banten!

12 November 2018,
Liberica,
Kesayangan Kamu.

Psst, beberapa foto dibantu oleh derus.

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Saya dan teman-teman media serta blogger mengeksplor beberapa tempat wisata budaya di Serang, Banten. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaCagarBudaya #Cagarbudayaku #PesonaIndonesia