Monday, 19 November 2018

November 19, 2018 1

Buku Untuk Indonesia


Semasa sekolah, saya selalu menyempatkan diri untuk ke perpustakaan setiap jam istirahat. Baik itu meminjam buku, ataupun membaca di tempat. Hobi membaca buku sejak sekolah membawa ke arah implusif setiap ke toko buku. Kenapa? Karena menurut saya semua buku menarik untuk dibaca.

Hingga sekarang, masih ada buku yang belum saya baca dan masih tersegel plastik, padahal pembeliannya sudah terlampau lama. Koleksi yang masih tersimpan rapi adalah komik Detective Conan. Kalau ditanya kapan terakhir kali ke toko buku, saya masih bisa menjawab dengan detail yaitu 5 Oktober 2018, membeli beberapa buku bisnis dan strategi.

Saya jadi ingin menceritakan beberapa kisah ketika melakukan perjalanan. Di Purwokerto terdapat desa yang menurut saya sangat minim. Desa-nya lumayan jauh dari kota Purwokerto, di desa tersebut terdapat taman bacaan untuk anak-anak sekitar, namanya Taman Bacaan Kudi, yang dibangun oleh salah satu teman saya. Di bangunan dengan ukuran persegi yang diisi beragam buku bacaan anak kecil membuat anak-anak di sana antusias untuk membaca. Minimnya fasilitas seperti pendingin ruangan ataupun AC serta karpet supaya anak-anak dapat membaca dengan nyaman. Selain gemar membaca buku, anak-anak di Taman Bacaan Kudi juga sering melakukan pentas seni khas Banyumas. Kenthongan mereka menyebutnya. Memainkan alat musik kenthongan kemudian beberapa anak kecilnya menari dengan lincah. Duh! Saya jadi rindu melihat mereka menari dan bermain kenthongan.

Selain Taman Bacaan Kudi, beberapa minggu yang lalu saya juga menyempatkan diri ke Rumah Dunia milik Gol A Gong. Selain buku-buku, di rumah dunia ini anak-anak dapat mengikuti kelas menulis, sastra, dan puisi, terdapat pertunjukkan seni teater juga.

Minat membaca di sini (enggak tahu di mana, sekitar kita, dong) saya akui memang kurang, terlebih lagi adanya buku digital. Teknologi semakin canggih, semua yang ingin dibaca sudah ada digenggaman dan mudah diakses. Kemudahan dalam mengakses segala informasi dalam handphone membuat diri kita secara tidak langsung membuat kita menjadi pribadi yang malas. Malas untuk mencari informasi yang benar, dan siap menerima informasi hoaks. Hmm, sungguh memprihatinkan.

Saya mendapatkan informasi bahwa BCA ternyata mempunya gerakan #BukuUntukIndonesia dan sudah berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 2,452,287,951 atau kalau susah sekitar 2,4 miliar, deh 'ya. Tapi ditotalin menjadi Rp 2,553,000,000 jadi berapa? 2,5 miliar. Dana tersebut dikonversi menjadi 43.734 buku yang kemudian disalurkan ke 111 sekolah yang berada di 60 area di Indonesia. Wah, sungguh banyak. BCA berhasil menambah minat baca bagi penerus generasi bangsa. Saya bangga. Sekolah-sekolah yang menerima donasi antara lain tersebar di Aceh dan Lampung mewakili daerah Sumatera. Sedangkan yang mewakili Jawa adalah Garut dan Solo. Lalu yang mewakili Kalimantan ada di Singkawang. Kemudian yang mewakili Sulawesi terdapat di Makassar, Manado. Serta Kupang.

Sebagai generasi penerus bangsa yang cerdas memang harus diimbangi dengan membaca buku. Buku yang berkualitas dan mendidik justru ini akan menjadi tunas-tunaa bangsa yang kelak akan mewarisi negeri ini.

Terima kasih BCA, saya bangga :)

17 November 2018,
Singkawang,
Kesayangan Kamu.

Disclaimer:

***Postingan ini dibuat dalam rangka kerjasama dengan PT. Bank Central Asia (BCA). Informasi dan postingan lainnya dapat dilihat pada hashtag #BukuUntukIndonesia.***

Sunday, 18 November 2018

November 18, 2018 0

Menikmati kemegahan rumah Betang di Pontianak

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke Pontianak, perjalanan saya kali ini dalam sebuah project video. Video apa, ya? Nanti tak share di channel youtube, ya. By the way, ada yang menarik ketika saya jalan-jalan tempo hari di Pontianak. Dari seberang jalan terlihat bangunan yang panjang dan berwarna merah perpaduan hitam, putih, dan coklat dari kayu. Menarik perhatian saya untuk menginjakan kaki di sana sekalian cari tahu info menarik lainnya, siapa tahu dapat ilmu baru.


Dan benar saja, ternyata Rumah Betang, rumah adat khas Kalimantan. Rumah ini menjadi pilihan destinasi wisata saya siang hari itu dengan cuaca yang cukup terik dan menyengat. Bangunan yang saya lihat ini merupakan replika, tapi enggak perlu khawatir, karena semua bentuk dan isinya menyerupai aslinya. Jadi, saya atau kalian bisa tahu meskipun enggak melihat langsung rumah asli suku Dayak yang berada di pedalaman Kalimantan. Yang menarik adalah rumah panjang ini beneran panjang sekali, saya sampai terengap ketika mengelilinginya padahal hanya satu putaran, ini saja jalan santai.

pontianak

Rumah yang menjadi identitas dari suku Dayak ini memiliki ciri-ciri berbentuk panggung dan panjang mencapai 30-150 meter sedangkan lebarnya 10-30 meter belum lagi tinggi tiangnya sekitar 3-5 meter. Kalimantan memang terkenal dengan suku Dayak, selain suku Banjar, Melayu, Kutai, Paser dan lain sebagainya. Apalagi pada zaman dahulu masih banyak binatang-binatang buas. Bikin rumah bentang juga enggak bisa sembarangan karena ada beberapa syarat, seperti; di hulunya harus searah dengan matahari terbit dan sebelah hilirnya ke arah matahari terbenam. Ini dimaknai sebagai symbol kerja keras untuk bertahan hidup mulai dari matahari terbit hingga terbenam untuk semua suku Dayak.

pontianak

pontianak

Rumah Betang ini juga disebut dengan Rumah Radank, pelafalannya seperti apa ya? Katanya istilah Radank ini digunakan untuk rumah panjang di Dayak Kanayatn dan sudah punah di perkampungan asli adat Dayak. Maka dari itu, pemerintah setempat inisiatif untuk melestarikannya dengan cara membangun replika rumah dengan skala yang besar. Pantes saja, bikin engap sampai dehidrasi.

pontianak

Setelah di lokasi dan saling menyentuh saya baru ngeh kalau bangunan ini dibuat dari beton, terdapat pahatan di dinding dan atap yang lebih modern. Wajar saja jadi menarik perhatian, dari segi desain dan arsitekturnya unik gini. Ketika saya ke sini memang bertepatan dengan acara musik, jadi saat itu begitu ramai untuk gladi resik. Nyatanya rumah betang ini memang aktif untuk menampung aktivis kaum muda dan sanggar seni Dayak. Meskipun begitu, tetap saja ada pengunjung yang hadir sekedar melihat beberapa musisi latihan, menikmati keindahan serta kemegahan rumah panjang ini atau berfoto-foto bak model seperti yang saya lakukan, hahaha

melayu pontianak

pontianak

rumah radank

Menurut sumber yang saya dapat Rumah Radank ini sulit ditemukan di daerah maupun pedalaman. Namun terdapat beberapa rumah yang masih dihuni hingga sekarang, yakni di Dusun Saham, Kabupaten Landak. Rumah ini sudah ditempati sejak 140 tahun yang lalu dengan jumlah penghuni kurang lebih 200 jiwa. Hal ini terjadi karena adanya ketetapan dari pemerintah mengenai gaya hidup penghuni yang komunal dikait-kaitkan dengan gaya hidup komunis. Kekhawatiran pemerintah akhirnya berdampak pada penutupan rumah adat radank atau betang ini. Kalian juga tetap bisa berkunjung ke rumah adat asli seperti yang saya sebutkan di atas, lho. Karena seluruh penghuninya memang bersedia untuk dikunjungi.

Rumah panjang atau Rumah Betang ini enggak cuma ungkapan legendaris dari kehidupan nenek moyang zaman baheula, tapi juga suatu pernyataan yang utuh dan konkret tentang tata pamong desa, organisasi sosial, dan system kemasyarakatan, makanya menjadi titik sentral bagi kehidupan warganya. Kehidupan rumah panjang juga menghasilkan system nilai budaya yang menyangkut persoalan makna dari hidup manusia, makna dari pekerjaan mulai dari karya dana mal perbuatan, persepsi mengenai waktu, hubungan manusia dengan alam sekitar, dan hubungan sosial antar sesama. Kalau sewaktu sekolah belajar mata pelajaran PPKN dan Sosiologi, pasti akan mengangguk mengerti ketika mendengar semua kisah tentang rumah panjang dan suku Dayak ini.

pontianak

Rumah Betang atau Radank ini memang bukan sebuah hunian mewah layaknya hunian KPR zaman sekarang. Rumah ini cukup dilukiskan sebagai tempat tinggal sederhana dengan perabotan seadanya. Namun dibalik kesederhanaan itu, menyimpan banyak makna dan syarat akan nilai-nilai kehidupan. Makanya kenapa menjadi symbol yang kukuh dari kehidupan komunal masyarakat suku Dayak. Dari rumah betang saya dapat belajar bahwa hunian mewah bukan segalanya, eh tapi segalanya butuh kemewahan, sih ‘ya.

Dulunya rumah betang ini menjadi pusat segala kegiatan tradisional masyarakat, misalnya proses pendidikan yang bersifat non-formal. Rumah betang juga menjadi tempat yang efektif untuk membina keakraban satu sama lain serta memiliki rasa gotong royong yang tinggi.

Rumah betang ini terdiri dari 8 bagian, diantaranya: 

1. Pusat
Berada ditengah bangunan dan menjadi tempat berkumpul masyarakat untuk melakukan beragam kegiatan baik kegiatan keagamaan, sosial masyarakat dan lainnnya. 

2. Ruang tidur
Disusun berjajar sepanjang bangunan. Letaknya juga tidak bisa asal, karena ruang tidur anak dan orangtua memiliki ketentuan yang mana ruang tidur orangtua harus berada dipaling ujung dari aliran sungai, ruang tidur anak bungsu berada di ujung hilir aliran sungai. Ruang tidur orangtua dan anak bungsu tidak boleh diapit jika dilanggar akan mendapat petaka bagi seisi rumah.

3. Bagian Dapur
Menurut mitos supaya mendapat rezeki harus menghadap aliran sungai.

4. Tangga
Jumlahnya harus ganjil, umumnya berjumlah 3, yakni; berada di ujung kiri dan kanan, satu lagi di depan sebagai tanda ungkapan solidaritas yang menurut mitos tergantung ukuran rumah, semakin besar ukuran rumah maka semakin banyak anak tangga.

5. Pante
Ini merupakan lantai tempat untuk menjemur pakaian dan padi sekaligus mengadakan upacara adat. Berada di depan bagian luar atap yang menjorok ke luar.

6. Serambi
Pintu masuk setelah melewati pante yang jumlahnya sesuai dengan jumlah kepala keluarga.

7. Sami
Fungsinya sebagai ruang tamu atau tempat mengadakan kegiatan bagi warga yang memerlukannya.

8. Jungkar
Ruang tambahan yang adanya dibagian belakang bilik keluarga masing-masing namun atapnya masih menyambung dengan atap rumah panjang.

Anyway, seperti yang sudah saya tulis pada paragraph awal kalau Pontianak hari itu sedang bercuaca sangat terik, maka saya memutuskan untuk mengenakan outfit yang casual dan akhirnya memilih setelan celana jeans dengan T-shirt. Suka ada yang tanya ketika travelling bareng saya misalnya,

“Ben, kalo lagi travelling gini bawa celana jeans berapa sih”
jawaban saya tegas
“Cuma satu, enggak mau berat-berat isi kopernya.”
Eh benar dong, ya? Kalian juga gitu enggak sih atau jangan-jangan cuma saya seorang nih?

pontianak


bernavita

Pilihan outfit hari itu memang menentukan pergerakannya anggota tubuh, apalagi saya tipe orang yang aktif. Syukurlah pakaian saya enggak ribet, celana jeans yang saya pakai waktu itu merek Lois, lho. Pamer sedikit boleh dong, ya? Jadi kira-kira susunan destinasi saya hari itu hingga akhirnya ke rumah betang adalah Warung Kopi Asiang – Hutan Kota di sebelah Universitas Tanjung Pura – Rumah Betang – es krim Ang i – warung makan Mak Etek – perjalanan ke Singkawang. Ngomong-ngomong celana jeans, celana jeans Lois ini nyaman sekali,bahannya enak banget, plus stretch gitu deh, kebetulan saya sedang menggunakan yang straight fit jeans padahal dulunya pengguna skinny fit jeans. Tolong, jangan tanya kenapa ‘ya, karena kalian sudah tahu jawabannya. Cocok untuk kegiatan saya yang aktif pada hari itu.

celana jeans

Saya juga punya baju yang beli di Lois Indonesia, warnanya putih gitu, tapi saya pakai untuk pembuatan video di project dalam perjalanan travel saya ke Pontianak dan Singkawang ini, jadi yang penasaran seperti apa bajunya nantikan videonya di youtube channel saya bulan Desember 2018.

Kalau kalian mau punya jeans samaan kayak saya bisa langsung ke store di Lois terdekat dengan kota kesayangan kamu, enggak Cuma denim kok, ada kemeja, syal, flannel dan lain sebagainya. Jangan lupa, ada lomba blog juga yang diadain sama Lois Indonesia, info lengkapnya segera cari tahu di linimasa-nya. So, Denim is always good idea and denim everyday everywhere!

Di atas pesawat menuju Jakarta,
18 November 2018,
Kesayangan Kamu.

Disclaimer:
***Postingan ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba blog contest dengan Lois Indonesia. Informasi dan postingan lainnya dapat dilihat pada hashtag #LoisBlogContest #LoisIndonesia.***