Friday, 5 April 2019

April 05, 2019 18

Kuliner di Sabang Jakarta Pusat

Beberapa teman datang ke Jakarta untuk menikmati keindahan Monas baik itu pada malam hari ataupun siang hari. Beberapa diantara mereka datang untuk mencari buah tangan yang hendak dibawa ke asalnya. Mereka sibuk mencari sesuatu yang unik selain Monas ketika datang ke Jakarta dan kamu kesulitan untuk membawanya ke mana selain melihat benda yang menjulang tinggi dan selalu dibanggakan oleh seluruh penjuru Indonesia, bukan? Kita sama, bukan dengan senang hati saya harus berada di posisi sama seperti kalian tapi ini benar adanya.

jakarta

Kita tidak pernah hidup sendirian, bukan? Seorang pejalan pasti akan menemui banyak orang ketika melakukan perjalanannya. Mungkin beberapa diantaranya sekelebat mengucap janji, seperti;

“Datang ke Jakarta, nanti saya ajak keliling.”
“Kalau ke Jakarta, jangan lupa untuk hubungi saya.”
“Wah, saya rindu sekali makanan seperti ini. Kalau ke Jakarta, saya ajak makan di tempat favorit saya.”

Adakah yang melakukan itu dan tidak menepati janji tersebut? Benar, seorang teman datang untuk menagih janji. Ia jauh-jauh dari ujung barat Indonesia untuk menikmati kemegahan Monas, menikmati junk food yang hanya bisa ia lihat di layar televisi, melihat arogansi penduduk Jakarta yang seolah hanya mereka yang paling terburu-buru karena di kejar oleh waktu.

Untuk pembaca benbernavita.com yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya, pernah mendengar daerah Sabang? Bukan di Aceh, melainkan di Jakarta Pusat. Kalian paham sekali bahwa di sana adalah surganya kuliner bukan? Mau apa saja semua ada, benar begitu? Penjaja makanan sudah menyiapkan semuanya sejak pukul 18.00 wib, pengunjung mulai berdatangan tepat 18.15 wib. Matahari memang selalu tenggelam setiap hari, pengunjung datang tanpa rasa peluh mengharapkan makanan yang nikmat dan senantiasa menghapus keletihan di hari itu.

jakarta

jakarta

jakarta

jakarta

Ya, inilah kuliner yang berada di jalan Sabang Jakarta Pusat, bisa kita menyebutnya dengan night market. Mulai dari makanan ringan hingga makanan berat semua berada di sana, ketika siang hari mereka menjadi tempat lalu lintas yang mana orang-orang akan sibuk membuat foto atau sekedar bercengkerama dengan klien, kemudian pada malam hari semua berubah menjadi warung-warung tenda. Sekelompok pekerja, menghabiskan malam di sana, tidak peduli dengan apa yang sudah dilaluinya hari itu karena semua sudah berlalu. Dan mungkin inilah beragam kuliner di Sabang, Jakarta Pusat yang dapat dinikmati salah satunya…

1. Soto Ceker


Sebagai penikmati kaki ayam, saya selalu mencoba berbagai sensasi dalam menikmati kaki ayam dan salah satunya soto kaki ayam atau soto ceker. Soto ceker Pak Gendut, salah satu soto ceker paling legendaris di Sabang. Pertama kali menikmatinya di Jalan Jaksa, kemudian menikmatinya lagi di Jalan Sabang, di trotoar Sarinah, hingga masuk ke dalam gang yang berada di Jalan Sabang. Soal rasa? Tentunya berubah-ubah, kadang enak kadang standar kadang biasa saja. Tidak apa, menikmati makanan bukan melulu menyoal pada rasa kan? Bukan penikmat kaki ayam? Kikil, sayap, dan soto ayam juga tersedia tentunya dengan harga yang variatif.

2. Sate Ayam

jakarta

Sate ayam, salah satu makanan favorit pasangan saya. Pertama kali saya mengajaknya makan soto ceker ia memilih sate ayam. Ada banyak sate ayam di Sabang, yang terkenal tentunya ada, yang membuatnya berbeda apa? Tentu soal potongan daging yang disusun, apakah daging semua, apakah lemak, apakah kulit, apakah brutu. Semua tergantung selera pengunjung, ada harga ada rasa. Jika boleh saya jujur, harga sate ayam di Sabang terlalu mahal, lebih banyak lemak ketimbang daging. Berkali-kali kecewa dan enggan kembali.

3. Pempek

Rindu kuliner Palembang yang terkenal sejagat raya Indonesia, ini? Di Sabang juga ada, rasanya mungkin akan sangat berbeda baik itu dari adonan tepung dan ikan dari pempek atau cukonya. Salah satu kerabat bilang kalau cuko itu adalah senjatanya. Harga pempek di sini dibandrol sekitar Rp 15ribu hingga Rp 25 ribu.

4. Nasi Goreng

jakarta

Makanan paling mudah dan tidak perlu bertele-tele. Harga tergantung isi dari keinginan pengunjung, semakin wah semakin mahal.

--

Adakah diantara kalian yang merasa ganjal dengan foto-foto di atas? Ya, foto pada postingan ini saya ambil menggunakan kamera handphone, karena saya kira saya tidak akan menulis blog lagi, makanya kamera saya museumkan. Pertama kali menjepret memang membuat takjub, kenapa seperti itu, tapi bukan saya jika tidak memberitahu kalian apa rahasianya.

Kamera dari handphone OPPO R17 Pro ini harus saya akui memang cukup apik, terdapat kamera utama pada bagian dan memiliki beragam fungsi, seperti; Kamera belakang 20 megapixel dengan optical Image Stabilization (OIS), kamera 12 megapixel, lensa 3D Stereo Camera untuk memberikan efek AR. Belum lagi kamera depan 25 megapixel.

jakarta

Infrared camera, untuk memberikan efek post editing pada wajah supaya lebih presisi dan digunakan sebagai AR Rules dan camera of f/1.5 dan f/2.4 Aperture, supaya menghasilkan gambar dengan komposisi terbaik menurut AI. Should I clap for this phone?

Saya memiliki 3 handphone dan menurut saya handphone OPPO R17 Pro ini amat mumpuni ketika menggunakan mode malam (Ultra Night Mode), hasil fotonya benar-benar detail dan membuat saya terkesima. Amat cocok melakukan fotografi malam hari dengan lampu-lampu ibukota Jakarta yang cantik.

Pernah mendengar SuperVOOC? Salah satu teknologi pengisian daya yang paling cepat dan terdapat di OPPO R17 Pro. Benar saja, ketika handphone tersebut lemah daya (nol persen), hanya perlu menunggu 35 menit untuk kembali penuh hingga seratus persen.


Sudah tertarik untuk punya kamera handphone (OPPO R17 Pro) seperti saya? Yuk, kita sama-sama punya supaya bisa hunting night market lainnya di Jakarta. Pssst, ingatlah bahwa kamera terbaik adalah kamera yang saat ini kamu punya. Penasaran sama productnya? Silahkan cek di link ini ya untuk info lebih lengkap nya 

Saturday, 30 March 2019

March 30, 2019 1

Minta Maaf pada Blog Pribadi

Lama sudah tidak menulis, apa kabar duniaku? Perlukah saya melakukan pengakuan atas hilangnya saya dari sisimu? Blog ini selalu saya cintai sepenuh hati, tidak akan pernah terlupa bagaimana kami tumbuh bersama, setiap detail dari mu selalu membuat bahagia, melihat kamu tetap berdiri kokoh seperti ini sudah membuat saya jauh lebih baik.

Yaa, mudah untuk datang dan pergi tanpa perlu peduli dengan perasaan orang lain, benar begitu bukan? Kamu tahu? Dunia nyata ternyata sekejam itu, saya sampai kewalahan menghadapinya. Bermurung dibalik bantal, menyeka air disekitar mata, menghela napas untuk melepas luka batin. Benar seperti yang orang tua katakan, “di luar sana hidup akan terasa lebih berat.” Namun, seberat apapun memang harus dihadapi dan tetap menunjukkan persona senyum, bukan?

Meminta maaf pada blog pribadi? Sepertinya ada yang salah dengan penulis. Ada pepatah yang mengatakan, anjing menggonggong kafilah berlalu. Ya, biarlah. Kamu sudah bertahan sejauh ini, memberikan pelbagai pesona. Bagaimanapun, karya mu tetap akan abadi di sini. Perlukah kita memulai lagi? 

Friday, 11 January 2019

January 11, 2019 2

Sunrise di Torosiaje

gorontalo

Beberapa bulan lalu saya pergi ke Pohuwato. Saya menyisir jalanan nan lika liku menuju Kecamatan Popayato kemudian naik sampan untuk menyeberangi pemukiman Desa Torosiaje. Desa yang berisi dengan suku Bajo. Masih terasa seperti kemarin perjalanan ini dilakukan.

Dimana ada pesisir di mana ada laut di sana ada orang Bajo. Dikaitkan dengan legenda. Asalnya dari tanah Johor. Meskipun belum ada yang memastikan suku Bajo dari mana. Sejauh ini suku Bajo mengatakan bahwa sukunya termasuk dalam sejarah yang hilang. Penyebaran suku Bajo yang terdapat di Indonesia khususnya Indonesia timur karena hilangnya seorang Putri dari Raja Johor. Sekelompok orang-orang kerajaan mandi di sebuah pulau, namun Putri Johor tidak diberikan izin oleh Raja.

Nama Torosiaje berasal dari 2 suku kata toro dalam Bahasa Bugis koro: Tanjung. Siaje hanya penyebutan dari si haji. Suku Bajo identik dengan suku Bugis. Adat, kearifan lokal, Bahasa, dan kata. 

Torosiaje menjadi kunjungan pada hari kedua dalam rangkaian perjalanan ini. Setelah sebelumnya harus naik turun kereta listrik yang harus penuh waspada karena kamera dan laptop berserakan di dalamnya, berganti kendaraan online, berpindah tempat, naik turun pesawat, naik turun mobil menempuh perjalanan berjam-jam hingga akhirnya tiba di Torosiaje. Saya jadi teringat kata Kak Ajo, teman perjalanan saya sekaligus mentor menulis saya. Ka Ajo pernah berkata

“Bena, selama kamu melakukan perjalanan dan berhari-hari bahkan berminggu-minggu lamanya terkadang jadi terbiasa bahkan terlalu biasa. Pindah dari kereta satu ke kereta lainnya, bus ke bus, pesawat ke pesawat, mobil ke mobil, kapal ke kapal. Apa yang kamu rasakan, apa yang kamu lakukan, secara fakta semuanya berubah menjadi rutinitas. Semula yang awalnya menyenangkan, kini menjadi hal biasa bahkan kamu sendiri jenuh."

Memang benar, tapi perjalanan ke Torosiaje menghilangkan rasa bosan itu. Rumah panggung yang tertata, tawa anak kecil yang menyeruak di tengah tenangnya air laut, hamparan laut yang terpampang nyata di sekitar penginapan. Itu semua membuat saya menantikan hal terindah perdetiknya.

gorontalo

Tak puas dengan sunset yang di dapat, saya mengesalinya, keesokkan harinya saya bangun lebih pagi dari biasanya. Entah mengapa pupil seperti disentuh untuk segera bangun. Matahari menyinari semua rumah panggung di sekitar. Cahaya kuning keemasan cukup membuat mata sejuk. Dinginnya air laut pagi itu saya tantang untuk terus mengabadikan setiap gerak-gerik awan. Seperti sangat disayangkan untuk dilewatkan. Penginapan menjadi ramai dengan kawan-kawan lain yang ingin mengabadikan hal sama. Matahari semakin menunjukkan sisi sempurnanya, sunyi itu menjadi riuh dan membuat kami harus segera berkemas untuk berkeliling ke pulau selanjutnya.

Sabang 16,
18 Juli 2017
Kesayangan Kamu. 

**
Postingan ini dalam rangka memajukan Pohuwato menuju digital bersama dengan Pemerintah Daerah Pohuwato, Gorontalo dalam hashtag #PohuwatoGoesDigital