Wednesday, 11 April 2018

Permasalahan Transportasi di Ibukota


Jujur aja, transportasi jadi masalah utama beberapa akhir belakangan ini. Bagaimana tidak semua orang maunya naik kendaraan pribadi. Cuma ke supermarket depan komplek saja harus manja-manja naik kendaraan. Belum lagi ojek daring yang makin hari makin merajalela.

Pertanyaan yang selalu timbul dalam benak. Kenapa sih mereka menggunakan kendaraan pribadinya dengan sangat egois? Egois maksud saya di sini adalah ...

Tidakkah kalian lihat kendaraan roda empat yang hanya berisi satu atau dua penumpang? Lalu kendaraan bermotor yang hanya dikendarai seorang diri? Tidakkah itu menyulitkan pengguna jalan yang lain? Hah?!

Akhir-akhir ini saya cukup sering berangkat lebih pagi bersama dengan pasangan saya. Jadi kenyang sekali saya melihat kendaraan sekitar yang berlalu lalang hanya berisi satu/dua penumpang.

Lalu bagaimana nasib angkutan umum? Mari kita bahas pelan-pelan. By the way pada postingan kali ini saya mau ngajak diskusi ya bukan debat.

Yang pertama, angkutan umum yang kecil dan paling banyak nge-time di sekitar stasiun. Jalan bolak-balik dari stasiun hingga ke destinasi terakhir selalu sepi penumpang, hanya terisi dua/empat penumpang.

Kedua, metromini. Padahal sudah banyak begitu tempat duduknya tapi? Masih saja kosong. Dulu orang berbondong-bondong mengejar metromini supaya tidak telat. Tapi ini beda, penumpang sudah tidak lagi peduli dengan metromini. Kalaupun ada yang peduli hanya sedikit. Jadi sekarang lebih sering nge-time-nya dibanding jalan sradak sruduk.

Ketiga, ojek online dan kendaraan online lainnya. Entah kenapa saya merasa ini semakin enggak karuan. Terlalu banyak banget berkeliaran warna hijau di jalan dan tidak memiliki aturan serta tidak tahu tata tertib berkendara dan tata tertib sebagai pengguna jalan.

Keempat, yang baru bisa belajar bekendara. Ambil contoh saja ibu-ibu. Dengan modal kacamata hitam lalu berkendara motor hingga ke jalan raya. Belok kanan atau kiri tidak menggunakan sein. Apalagi ketika akan belok melihat kanan kiri saja enggak. Kalau tertabrak dia yang ngoceh paling lantang. Heran kenapa para suami memperbolehkannya berkendara padahal belum lancar.

Kelima, anak kecil atau anak Sekolah Dasar yang sudah ugal-ugalan menggunakam kendaraan bermotor di jalan. Depan rumah saya bisa dibilang akses kendaraan komplek yang akan keluar masuk komplek. Kalau sudah sore? Bukan main anak ugal-ugalan itu ngebut-ngebutan di dalam komplek. Kalau saya ada di rumah sudah saya marahi anak tersebut peduli setan mau anaknya pejabat atau bukan. Kalau dirasa mengganggu pasti sudah saya marahi. Heran kenapa para orangtua sudah membolehkan untuk berkendara, padahal ada undang-undangnya.

Dulu ada solusinya, nebengers. Ya, dengan solusi nebengers ini pengguna jalan dapat nebeng dari titik temu yang sudah disepakati hingga tujuan akhir yang disepakati juga. Enggak heran dulu banyak sekali kendaraan pribadi yang tetap penuh atau ramai. Terima kasih nebengers. Namun, sekarang semenjak nebengers menggunakan aplikasi jadi minim usernya. Masih ada, hanya saja sedikit. Bahkan saya sendiri juga sudah tidak lagi menggunakan nebengers.

bptj

bptj

Lalu sekarang apa solusinya? Ya naik transportasi yang sudah disediakan dong! Saya termasuk warga yang sering menggunakan transportasi umum terutama commuter line dan Trans Jakarta. Saya tidak akan menggunakan kendaraan bermobil saya untuk bolak-balik ke kantor kecuali ada urusan yang mana saya harus menggunakan kendaraan tersebut. Pemerintah sedang gencar sekali untuk mempromosikan kendaraan bus dan program ganjil genap. Ganjil genap Jakarta sudah berjalan. Ganjil genap Bekasi? Sudah berjalan sudah, sudah lebih baik sekarang. Hamdallah. Ganjil genap Cibubur sedang dalam perencanaan (koreksi jika saya salah). Persoalan bus ini yang masih dilema karena masih banyaknya warga yang enggan numpak bus.

bptj

bptj

bptj

bptj

Warga Bekasi atau yang saya sering sebut Planet Namec mestinya berbangga hati karena pemerintah sudah memperhatikan transportasi untuk kalian termasuk saya. Royal Trans atau APTB hadir di Bekasi dan sekitarnya untuk kalian para pekerja dan para penjemput nafkah di Jakarta. Hanya dengan Rp 10.000 (promosi) dan stop kontak serta kendaraan yang ber-AC kalian bisa menikmati perjalanan di Jalur Khusus cari lagi nama jalurny sembari tidur (jika tidurmu kurang dan semoga enggak kebablasan). Sebagai warga yang taat bayar pajak kita wajib apresiasi usaha pemerintah untuk mengurangi kemacetan ibukota yang kian merajalela. Enggak usahlah kalian beli kendaraan yang DP-nya nol persen. Palsu itu sama kayak janji kampanye kemarin.

11 April 2018,
Dalam perjalanan ke Jakarta.
Kesayangan Kamu.

Psst; Terima kasih untuk foto-fotonya kepada Nidy yang sedang jalan-jalan di Jepang dan Kak Arief yang lagi sibuk mencari kucing dan ayam di Tasik

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan baik dan sopan kalau mau jadi kesayangan aku :) JANGAN PAKAI AKTIF LINK YA!
Jika ingin kasih sayang berlebih bisa ke benbenavita @ gmail . com