Friday, 24 March 2017

Tentang Taman Sri Baduga, Air Mancur Terbesar di Asia Tenggara

Entahlah, saya bingung harus menulis paragraph pertama ini dengan apa. Saya masih sangat amat takjub dengan pesona air mancur dari Purwakarta itu dan juga masih sangat amat sedih karena kepergian.

taman air mancur sri baduga

Pagi itu, kabar tak membahagiakan datang, tumpukan chat dari aplikasi whatsapp bertubi-tubi, mengabarkan bahwa papih cumilebay meninggal. Ya, saya memanggil almarhum dengan sebutan papih, almarhum banyak menceritakan suka duka menjadi travel blogger dan mengajarkan banyak hal sebagai travel bloger kepada saya. Bahkan tak sering saya konsultasi masalah ratecard dengan almarhum. Sedih bertumpuk pagi itu. Belum selesai bersedih saya harus bersiap mengingat ada pertemuan di daerah Kebayoran. Saat menunggu commuter line, seseorang mengabarkan melalui whatsapp (yang isinya enggak perlu saya beritahu), tanpa pikir panjang saya mengiyakan, maka dengan segera saya mencari pasukan. Pasukan geng kuliner tidak ada yang bisa satupun, kemudian pasukan w-buy terlebih - lebih. Hhh, hampir punah harapan saya, tapi saying saya belum punah ke kamu. Seketika saya membuka lembaran chat di whatsapp dan melihat satu pasukan belum saya hubungi, akhirnya saya menghubungi kamadig yang memang sedang berada di Bandung. Tanpa pikir panjang Ka Vika mengiyakan dan kami semua berangkat dari 2 kota yang berbeda. Saya dari Planet Namec dan Ka Vika, dkk dari Bandung.

“Bena di mana? Kami jemput di mana?”
“Enggak tau, di sekitaran parcom kak.”

“Ka Vika udah di mana?”
“Masih Macet”
“Di maps berapa lama lagi sampenya?”
“Gara-gara alternatip jg dilalui orang-orang yang kejebak macet.”
“Hua”
“40 menit lagi, Ben”
“Di maps aku 4 kg lagi kak. Eh, Kilometer. Kok kilogram sih?”
“You will early”
“Padahal kalian dari Bandung.”

Ya, kira-kira begitulah percakapan di messenger antara saya dengan Ka Vika. Berkutat dengan jalanan malam minggu menuju ke Purwakarta. Setelah tiba di Rumah Dinas, saya menunggu di teras dan disediakan teh hangat. Wajah sudah enggak karuan letihnya. Iya, enggak ada alternative lain selain naik bus ekonomi menuju purwakarta yang dadakan begitu. Ada kereta api, tapi sudah lewat jam-nya. Jadinya tidak bisa memesan juga. Setelah bertemu dengan Ka Vika, Raim, Ka Qoqod, Om Fajar, dan Haqi. Kami semua di persilakan untuk masuk melihat air mancur yang terkenal itu. Iya, air mancur di di Taman Sri Baduga.

Mata saya berbinar saat menyaksikannya, bibir saya bergetar dan tak luput mengatakan
“woghhhhhhhhhh, daebak”
Iya, saya benar-benar merasa takjub dengan air mancur bergoyang itu. Saat melihat air mancurnya, saya merasa lupa sedang bersedih, bahkan saya hampir lupa kalau punya pacar. Lah gimana? Pantas saja mama saya minta ke sini juga, setelah saya izin untuk pergi ke Purwakarta.

Purwakarta, yang sebelumnya hanya dilalui ketika kamu pergi ke Bandung, kini telah menjelma menjadi kota yang patut kamu kunjungi. Bukan hanya waduk Jatiluhur saja yang berhasil mengubah sudut pandang. Tapi air mancur yang katanya terbesar di Asia ini juga berhasil mengubah sudut pandang.

Tenang, kamu enggak perlu mengeluarkan dana sedikitpun untuk menonton air mancur bergoyang ini, karena Kang Dedi menyediakannya secara gratis. Padahal kalau dihitung biaya lampu dan airnya sudah berapa watt listrik yang dihasilkannya itu. Hmmm. Kamu juga enggak bisa sembarang hari jika ingin menontonnya, karena air mancur ini hanya akan diputar setiap malam minggu sebanyak 2 kali. Sekitar pukul 19.00 hingga 20.00, jadi prepare-kan waktu untuk melihat gerakan air mancur ini.

Perihal air mancur, katanya, tempat yang dijadikan air mancur ini, dulunya adalah tempat prostitusi, kemudian diubah menjadi kolam air mancur yang cantik daripada penjaja wanita yang dijual di prostitusi itu.

taman air mancur sri baduga

taman air mancur sri baduga

Malam semakin larut, saya tahu, kami semua memang letih karena jalanan yang bikin kesal setengah mati, tapi letih kami terbayar lunas dengan adegan air mancur tersebut. Aktivitas kamadig tidak hanya sampai di sana. Kami masih melanjutkan berbincang dengan Kang Dedi Mulyadi, tapi sebelum berbincang, kami menunggu Kang Dedi untuk menyelesaikan sesi fotonya bersama dengan warga Purwakarta. Saya salut dengan Kang Dedi, beliau terus tersenyum dengan warganya meskipun matanya sudah menunjukkan keletihan. Warga sangat antusias untuk berfoto dengan orang nomor satu di Purwakarta. Dan akhirnya kami kebagian jam malam untuk berbincang dengan Kang Dedi.

dedi mulyadi

Keesokan harinya, saya mengunjungi museum di Purwakarta, sampai ketemu di postingan tentang museum selanjutnya!

Yogyakarta,
19 Maret 2017
Kesayangan Kamu.

Psstt, terima kasih Haqi beberapa fotonya.

4 comments:

  1. Emang air mancur itu lagi hits banget. Ah, baru tau cuma ada pas malam minggu doang. Gue kirain tiap malam. Hehe

    ReplyDelete
  2. Balada membawa berkah.. sampe juga lagi Purwakarta!

    ReplyDelete
  3. Saya mau nulis cerita perjalanan, ngunjungin blog Bena sebagai referensi.

    ReplyDelete
  4. FIX MAU KE PURWAKARTA BARENG BENA POKOKNYA......

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar dengan baik dan sopan kalau mau jadi kesayangan aku :) JANGAN PAKAI AKTIF LINK YA!
Jika ingin kasih sayang berlebih bisa ke benbenavita @ gmail . com