Tuesday, 17 February 2015

[FF2in1] Kita di atas awan

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Gunung Cikurai adalah gunung yang terletak di kabupaten Garut, Jawa Barat Indonesia. Gunung ini mempunyai ketinggian 2.821 mdpl.
Pendakian yang sudah lama di nantikan. Pendakian bersama pacar untuk melihat negeri di atas awan. Iya. Puncak Gunung Cikurai memang terkenal sebagai negeri di atas awan.
Dengan segala jenis sikon yang saat itu saya hadapi saya berhasil mencapai puncak gunung tersebut. Basecamp pemancar hingga pos 6 berhasil saya tapaki meskipun harus berulang kali memakai inhaler, berulang kali membutuhkan oksigen di tambah kondisi kaki kanan saya yang belum lama sembuh dari kecelakaan waktu itu.

Pos 6 sudah berhasil dilewati, tenda untuk berbaring belum terlihat, teman lainnya berkata bahwa akan mendiriman tenda di puncak bayangan. Sekuat tenaga dan fisik saya terus berlanjut mendaki meskipun harus tersungkur dan mendapati hal lain sebagainya.
Setengah perjalanan di pos 6, saya tidak mampu lagi untuk melangkah. Awan sudah gelap dan makin gelap, saya gelisah. Gelisah karena kaki kanan saya tak mampu lagi untuk menapak tanah, gelisah karena mata sudah tak mampu melihat dengan jelas. Kemudian saya meminta salah seorang dalam tim untuk segera naik ke puncak bayangan terlebih dahulu. Belum lama kawan naik, pacar tiba di hadapan saya. "Kamu kenapa? Kakinya masih kuat?" Tanyanya. Saya hanya menahan air mata. Tak mampu melihat wajahnya. Kemudian dia mengucapkan kalimat yang membuat saya tersontak "mau aku gendong?" Saya hanya mengangguk.

Di angkatnya saya menuju punggungnya. Setapak demi setapak pacar berjalan. Saya tau trek jalur Cikurai itu sulit. Sangat sulit. Apalagi setelah pos 6. Banyak ranting, banyak akar dan lain sebagainya. Berulang kali beristirahat. Berulang kali bertanya tentang keadaan saya. Dia seakan tidak memikirnya kondisinya sendiri.
Setelah nafasnya di rasa sudah lebih teratur pacar kembali menaruh saya di punggungnya. Setapak demi setapak ia berlangkah. Suara nafasnya terdengar sangat lirih di telinga saya. Di belakangnya saya hanya menitihkan air mata dan berulang kali memberinya semangat berulang kali juga merintih karena kaki kanan yang sakit.
Akhirnya puncak bayangan kami sampai.
Keesokkan harinya kami tiba di puncak. Di negri atas awan itu.


Rgrds,


No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan baik dan sopan kalau mau jadi kesayangan aku :)
Jika ingin kasih sayang berlebih bisa ke benbenavita @ gmail . com