Monday, 5 June 2017

Nyobain Ilabolu di Pohuwato dan Mengenal Sejarahnya

Sewaktu diajak ke Warong Inspirasi saya kira cuma sekedar makan dan ngobrol santai sambal guyon. Ternyata ada sekumpulan pemuda harapan Pohuwato yang sedang menunggu di sana dan bersiap untuk sharing mengenai kepenulisan bersama kami.

Berawal dari perkenalan rumit yang saya lakukan dan mengaku bahwa tulisan di blog saya ini lebih banyak berisi tentang eat, sleep, travelling. Kemudian saya ditanya oleh salah satu pemuda harapan Pohuwato tersebut.

“Saya mau tanya sama Mbak Bena.”
“Iya Mas silakan.”
“Kan tadi Mbak Bena bilangnya suka kulineran ya. Nah, dari Mbak Bena sendiri sudah nyobain ilabolu kah?”
“Kebetulan belum, Mas. Besok kalau ketemu langsung saya cobain ya.”

Enggak pakai lama, si mas langsung pamit keluar dan ternyata setelah kembali dia membawakan ilabolu. Ya Allah! Baik banget ya pemuda harapan Pohuwato ini. Dengan sigap waiters di Warong Inspirasi langsung menyiapkan ilabolu di atas piring yang kemudian tersedia di meja kami.

ilabolu gorontalo

Dari tampilan luar ilabolu ini seperti otak-otak, namun setelah kulit daun pisangnya saya kupas, tampilan dalamnya tidak terlihat otak-otak. Ilabolu yang saya nikmati ini sudah keras mungkin karena terlalu lama saat diperjalanan. Menurut lidah saya ilabolu ini terdiri dari campuran sagu, telur, ikan tuna, bawang putih, merica, dan pedas dari cabai yang kemudian dibungkus dengan daun pisang lalu dibakar. Sepertinya juga ada tambahan rempah-rempah lain. Mohon koreksi kalau salah. Mas Gusti bilang kalau ilabolu ini biasanya di makan saat panas, jadi rasanya enak. Ilabolu juga ada yang pakai ayam dan hati ayam, tapi ada juga yang menggunakan ikan tuna.

Sejarah Ilabolu
Menurut kabar yang saya ketahui, ilabolu ini dianggap sebagai makanan perdamaian antara kerajaan Hulodhalangi dengan kerajaan Limutu dalam perebutan wilayah. Jadi ketika raja yang bertikai dan akan berdamai selalu disajikan ilabolu. Ilabolu dalam Bahasa Gorontalo mempunyai makna lain yakni “Totombowata” yang artinya bersatu padu.

Ilabolu disebut-sebut sebagai pelambang pemersatu dikarenakan memiliki macam-macam perbedaan yang dilambangkan pada sagu, lemak daging ayam, dan aneka rempah-rempah dijadikan satu bagian. Maka menurut raja, kenikmatan yang dirasakan itulah yang dimaksud perdamaian. Namun belum diketahui kapan ilabolu muncul pertama kali di Gorontalo. Belum ketemu sejarahnya.

ilabolu

Begitulah kisah saya yang pertama kali nyobain ilabollu beserta sejarah dari ilabolu itu sendiri. Kamu sudah nyobain ilabolu juga? Bagaimana rasanya menurut lidahmu? Kapan kita pergi kulineran bareng? KUY!

Sabang 16,
14 Mei 2017
Kesayangan Kamu

**

Postingan ini dalam rangka memajukan Pohuwato menuju Digital bersama dengan Pemerintah Daerah Pohuwato, Gorontalo dalam hashtag #PohuwatoGoesDigital

6 comments:

  1. Aku malah baru denger makanan itu mbak bena.....
    Wah emang kuliner indonesia itu kaya Raya !

    Orangnya baik baik pula ya, bilang belum pernah makan ilabolu malah langsung di bawain :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahahhaha. iya alhamdulillah bertemu dengan orang baik. btw ilabolunya enak lho li.

      Delete
  2. Wih, udah sampe Gorontalo aja kulinernya. Ntap! :)

    Yang gue tahu, kalau ada bolu-bolunya itu kue. Wqwq. Ternyata bukan, ya, ini mirip otak-otak. Jadi biasanya Ilabolu ini pakai ikan tuna, Ben? Kalau yang ayam itu varian aja, ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya biasanya pakai ikan tuna yogs. biasanyaaaaaa........
      karena disana kan kebanyakan ikan. ayamnya jarang buanget.

      gue pikir juga awalnya kue bolu. hahhaa/

      Delete
  3. Kalau di Makassar ini namanya Gogos. Hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hooo.beda tempat beda nama ya, padahal jenisnya sama. baru tau. ilmu pengetahuan yang baru!

      Delete

Silahkan berkomentar dengan baik dan sopan kalau mau jadi kesayangan aku :) JANGAN PAKAI AKTIF LINK YA!
Jika ingin kasih sayang berlebih bisa ke benbenavita @ gmail . com