Monday, 12 September 2016

Merindu Gunung Argopuro (Jakarta – Baderan)


Tepat tanggal 21 Agustus 2016 hari yang saya nantikan tiba juga. Pukul 12.45 saya sudah tiba di Stasiun Pasar Senen sembari menanti Ekki dan Stephanus, saya mencetak tiket terlebih dahulu. Ya, Ekki teman pendakian saya yang nantinya akan merindu di Gunung Argopuro.  Selama menunggu Ekki, saya kerap kali berkomunikasi dengan Stephanus untuk mengetahui dimana keberadaannya.

Tak lama menunggu, Stephanus datang sesaat sebelum pengecekan tiket. Saya menitip beberapa barang bawaan untuk pertemuan berikutnya di Malang. Setelah itu, saya meminta Stephanus untuk mengabadikan gambar saya dan Ekki dalam kamera yang saya bawa. Setelah itu? Percakapan yang tidak ingin didengar pun terjadi...


“Ben, ini lo berdua dari sini?”
“Maksudnya gimana?”
“Nggak, ini lo berdua dari Jakarta, nanti temen yg lain ketemu di Surabaya gitu?”
“Ha? Nggak, gue emang berdua doang sama Ekki. Hehehe.”
“HAH?! SERIUS LO? ARGOPURO LHO BEN.”
“Hahaha. Doain ya.”
“Anjir, ini anak gila. Kok lo mau sih, Ki?”
“Gapapa, paling disana ketemu sama pendaki yang lain.”
“Anjir, bae bae lo disana, kabarin gue sebisa mungkin. Sampe ketemu di Malang.”
“Hahaha. Siap bosku! Jangan lupa dibawain ya mas Step. Hahaha.”

Lalu saya berpamitan dengan Stephanus dan melanjutkan perjalanan ke gate dengan Ekki. Di sini cobaan dimulai. Ketika hendak hendaklah hendak hendak ku rasa, puncaknya gunung hendak ditawan menunjukkan tiket dan kartu identitas tabung gas yang berada di sisi kanan tas Ekki dilihat oleh petugas dan diminta, dengan alasan tidak boleh ada benda tersebut di dalam gerbong kereta. Tanpa banyak basa basi dan menahan emosi, saya bilang

yaudah ambil aja gas-nya.”

Setelah kegiatan yang kurang menyenangkan itu selesai, saya melanjutkan perjalanan dengan Ekki untuk mencari gerbong kami dan bangku. Cobaan berikutnya dimulai. Saya berdiri diatas bangku untuk menaruh carrier saya di kabin bagasi dan ternyata kabin bagasi di bagian atas tempat duduk saya sudah terisi oleh kardus milik orang lain. Hal ini yang membuat saya jengkel setelah sebelumnya ada cobaan di gate. Tanpa pikir panjang dengan posisi saya yang masih berdiri di atas kursi sambil memegang carrier...

“Ini punya siapa ya?”
Tidak ada yang menjawab dan dengan posisi tetap berdiri diatas bangku
“Ini barang punya siapa ya? Bisa tolong dipindah?”
Tidak ada yang merespon. Kemudian saya naikkan volume suara saya
“Ini barang punya siapa? Bisa tolong dipindah?”

Tak lama, ada bapak-bapak tidak separuh baya bergegas mengambil kardus tersebut dan berkata
“Maaf.”

carrier milik Ekki
Saya langsung mengangkut carrier milik Ekki ke kabin, kemudian carrier milik saya dibawah kursi. Kemudian seorang bapak yang duduk di depan saya berkata...

“Nanti buat orang tidur?”
Saya mengabaikannya.
“Nanti untuk orang tidur.”

Saya tetap mengabaikannya dan meminta Ekki untuk melanjutkan menaruh carrier saya di bawah kursi. Setelah itu kami duduk dan saya berbisik pada Ekki
“  **** ”


Belum juga kereta melaju, cobaan berikutnya kembali hadir. Bapak yang duduk di depan saya mengangat kaki dan menaruhnya di ujung kursi saya. Sembrono sekali. Wow!

Perjalanan ini memakan waktu lebih dari 10 Jam, banyak sekali kejadian aneh yang kami alami, mulai dari suara serek-serek knalpot bajaj yang sibuk teleponan sambil teriak-teriak. Kemudian ada bapak-bapak yang sibuk teleponan sambil teriak-teriak saat menerima telepon. Ditambah nada dering ponsel yang suaranya menggelegar.

22 Agustus 2016 kami tiba dini hari. Ya, pukul 01.45 langsung re-packing (karena carrier Ekki tampak elek bentukkan ne). Selesai re-packing kami mencari tempat untuk rehat sembari menunggu pagi.


Pagi sudah memperlihatkan kecantikannya, saya dan Ekki lantas bergegas untuk berjalan kaki keluar dari Stasiun Surabaya Turi untuk mencari bus umum yang nantinya akan membawa kami ke Terminal Bungurasih. Kurang lebih perjalanan yang kami tempuh satu jam untuk sampai Terminal Bungurasih. Setelah sampai, kami dibingungkan oleh beberapa petugas yang mencarikan alternatif untuk ke Terminal Besuki – Situbondo. Setelah mencari kesepakatan bersama antara saya dan Ekki, akhirnya kami memilih pergi ke Terminal Probolinggo terlebih dahulu kemudian menyambung bus umum lainnya untuk ke Terminal Besuki. Terminal Probolinggo kemudian lanjut ke Terminal Besuki, di terminal Besuki banyak sekali jasa-jasa yang menawarkan berebut. Mulai dari ojek hingga angkutan. Saya dan Ekki memilih ojek menjadi sarana transportasi selanjutnya untuk ke Basecamp Baderan. Oh, ya, saya menyempatkan untuk sarapan di dekat Terminal Besuki, berhubung jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Sarapan yang kami pilih adalah Nasi Rawon.


Pemandangan menuju basecamp Baderan

Dan yak, kami tiba di Basecamp Baderan. Kebetulan saya lebih dulu, karena abang ojek saya sradak sruduk sekali sampai saya mengucap istigfar. Alhamdulillah pendakian saya dalam edisi Merindu Gunung Argopuro kali ini tidak berdua dengan Ekki saja. Tidak lama saya tiba di basecamp ternyata ada rombongan dari Jakarta Barat dan Tangerang yang tiba. Detakan jantung saya kembali santai. Kekhawatiran saya juga alhamdulillah berkurang.


Bermodal SKSD, akhirnya keakbraban terjadi. Meskipun sepertinya nggak akrab-akrab banget. Haha. Mulai dari canda kecil hingga cengcengan yang menjurus. Sampai malam tiba, Ekki dan mereka masih saja terus bercanda. Sementara saya dan Bang Oji tertidur pulas dalam tenda. Namun, tetiba bapak-bapak itu (bapak yang ada di basecamp mengurus perijinan) meminta kami untuk melakukan registrasi malam itu juga. Registrasi untuk simaksi dan biaya admin lainnya dilakukan menjadi 2 kelompok. Mengingat saya dan Ekki memang 1 kelompok. Kemudian kelompok Jakarta Barat dan Tangerang ini menjadi kelompok kedua. Selesai melakukan registrasi mereka semua tetap kembali bercanda. Saya kembali tidur dalam tenda.

Pengeluaran yang keluar dari dompet Benaaa untuk pendakian ke Argopuro :
Tiket kereta api Pasar Senen – Surabaya Turi : Rp 165ribu
Bus umum Stasiun Turi – Terminal Bungurasih : Rp 6ribu
Bus umum Terminal Bungurasih – Terminal Probolinggo : Rp 30ribu
Bus umum Terminal Probolinggo – Terminal Besuki : Rp 12ribu
Nasi Rawson +es teh manis : Rp 10ribu
Ojek Terminal Besuki – Basecamp Baderan : Rp 35ribu

Simaksi pendakian Gunung Argopuro via Baderan :
Weekday : Rp 20ribu
Weekend : Rp 30ribu

Biaya administrasi : Rp 25ribu/kelompok

16 comments:

  1. ditunggu tulisan lanjutannya kaben :')

    ReplyDelete
  2. Mbak ... Lain kali naik nya exekutip aje yeeee hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakakaka. papih yeee. itu sengaja naik ekonomi :))

      Delete
    2. Sengaja lagi bokek yaaa hahaha

      Delete
  3. Ya ampun, baru sampe kereta udah banyak banget cobaannya. Kalo gue pasti udah teriak-teriak. :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. yhaaa, karena mau seneng-seneng jadi yaaa ngga teriak2. wakakakkaa

      Delete
  4. Ka ben mbok aku diajak merindu argopuro sih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kapan? skrg? nggak. makasih. masih sakit kakinyah

      Delete
  5. agrupuro lho beennnnn,,,weeh ko kalian berani bangettt yaa,,, gue,,,jelas, belum segitu nyalinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehehehhee.
      ada niat ada nyali. ganbate!

      Delete
  6. Entah kenapa dari awal cerita sampai akhir, Bena selalu terlibat dengan bapak-bapak.

    ReplyDelete
  7. Naik gunung? Kayaknya melelahkan banget yah...

    ReplyDelete
  8. Berani banget kalian mbak ._. eng... harus ditunggu nih cerita selanjutnya Mbak :D

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar dengan baik dan sopan kalau mau jadi kesayangan aku :)
Jika ingin kasih sayang berlebih bisa ke benbenavita @ gmail . com